Dimana Kita Berada Disitu Kita Melangkah

Hari ini tidak ada yang istimewa. Pekerjaan-pekerjaan aku jalani seperti biasa, seperti hari-hari yang lalu. Hanya saja kehadiran seorang teman, atau mungkin bisa di sebut sebagai guru, yang mungkin tampak beda. Bukan teman nya yang beda, tapi pembicaraan yang kami perbincangkan menjurus kepada topik yang cukup menarik dan mengesankan buat paling tidak hari ini.

Udara dingin sekali, mungkin di sebabkan langit selalu mendung, dan hujan yang tidak berhenti sejak kemarin. Pembicaraan pagi ini bersama teman cukup menghangatkan tubuh dan suasana. Apalagi kopi dalam teko yang tak pernah kosong menambah kehangatan.

Aku mencoba menulis apa yang aku fahami dalam pembicaraan tadi pagi. Kalau ternyata ada kekeliruan dalam pemahaman yang sebenarnya, maka berarti aku lah yang keliru, aku yang kurang bisa menuangkan pengertian kata-katanya dalam tulisan. Jadi harap maklum bila kurang jelas.

Pembicaraan berawal pada pengertian Posisi Setiap Benda. Semua benda mempunyai alamat, atau posisi dimana letaknya ia berada di lihat dari sudut pandang tertentu. Seperti rumah yang tentu punya alamat. Begitu juga Hotel, Kantor, Candi dll.

Sudut pandang di sini tujuannya hanya untuk memastikan letak posisi. Seperti suatu titik dalam Koordinat, maka di perlukan garis Horisontal (x) dan garis Vertikal (y). Sehingga akhirnya kita tahu dimana letak suatu titik.

Sudut pandang itu bisa dua garis tadi , juga berbagai macam sudut pandang untuk mengetahui posisi suatu benda.

Begitu juga dengan Manusia, posisi yang dimaksud adalah siapa kita, dimana kita, keyakinan apa yang kita miliki. Jika data-data itu banyak atau lengkap, maka kita akan mengetahui dimana sebenarnya Posisi Kita.

Mungkin pemahaman ini bisa kita ilustrasikan dengan contoh. Jika kita tersesat, tau-tau kita berada di hutan yang lebat dan gelap di waktu malam. Tentu kita tidak bisa melangkah ke suatu arah, sebelum kita tahu dengan pasti kira-kira dimana kita berada.

Maksudnya paling tidak kita tahu, bahwa kita berada di hutan yang sangat lebat. Kemudian kita mulai tahu paling tidak arah angin, atau jurusan-jurusan yang di berikan oleh petunjuk alamiah, seperti Bintang, atau adanya cahaya-cahaya lain. Karena kalau kita nekad melangkah tanpa perhitungan, maka resikonya kita bisa terjerumus masuk jurang atau ke tempat bahaya lainnya.

Setelah kita tahu dimana sebenarnya tempat kita, baru kita bisa menentukan kemana arah yang kita yakini akan memberi petunjuk yang benar. Contohnya jika kita bisa melihat adanya setitik cahaya lampu atau yang lain, dari jarak yang sangat jauhpun. Maka cahaya lampu itu akan cukup untuk menjadi tujuan setiap langkah kita, naik atau turun jalan yang kita lalui tetap tujuannya menuju ke arah cahaya lampu tersebut.

Begitu juga dengan perjalanan hidup ini. Sebelumnya kita harus tahu dan mengerti dengan pasti posisi kita. Kita harus tahu siapa kita, dimana kita berada, jalan apa yang ada di sekitar kita dan apa yang kita inginkan.

Baru kemudian kita bisa mengerti, jalan apa saja yang ada dan masing-masing akan menuju kemana. Jalan mana yang sesuai dengan tujuan kita, yang mana jalan itu harusnya lancar serta mudah atau tidak berliku-liku.

Sebagai manusia yang mempunyai sifat dasar salah dan lupa, tentu berpotensi untuk mengalami penyimpangan dalam perjalanan. Maka sangat diperlukan adanya petunjuk berupa rambu-rambu atau pribadi manusia yang sudah mengetahui jalan yang benar.

Manusia-manusia Suci dan Mulia, selalu ada pada setiap zaman. Keberadaan mereka diperuntukkan sebagai penunjuk jalan yang benar. Setiap manusia yang mengalami penyimpangan dalam perjalanannya, maka Manusia Suci itulah yang mengingatkan untuk kembali mengikuti jalan yang lurus, agar sampai kepada tujuan yang kita inginkan sejak awal.

Dengan pemahaman ini sebenarnya kita sudah bisa mengetahui posisi kita sekarang. Apakah kita sudah berada pada posisi yang tepat, artinya posisi kita segaris lurus antara awal keberadaan kita dengan akhir tujuan kita.

Advertisements

Puisi : Tujuan Hidup

Kini aku mengerti apa tujuan hidup ini

Pelajaran yang aku amati sesaat sebelum aku lahir

Aku sudah memikirkan arti kehidupan sebelum aku kenal Ibuku

Tak ada sedikit waktu yang terlewatkan oleh pengamatanku

Bahkan waktu tidurpun aku masih sempat mengamati

Pengamatanku tak beda waktu Anak-anak, Remaja atau masa Tua

Aku tak pernah lengah atau tertipu

Aku sebenarnya sudah mempunyai kesimpulan sejak sebelum lahir

Terbukti dimasa Tua kesimpulanku tidak salah

Tapi aku tak mau sembrono

Aku tetap konsisten

Semua keraguan harus aku buktikan

Semua tujuan harus ada alasan

Akhirnya kesimpulanku benar-benar terbukti

Kesimpulanku terbukti benar

Kini aku mengerti apa tujuan hidup ini

Tujuan hidup kita adalah hanya Mati

Bibit KKN Kecil-Kecilan

Kemarin pagi aku keluar dengan motor untuk tujuan ganti oli kendaraanku ini. Di bengkel suasana agak ramai, jadi aku harus antri menunggu giliran service. Di bangku panjang aku duduk menunggu giliran, sambil memperhatikan jalan raya, orang-orang yang lewat dan tukang mekanik yang mereparasi kendaraan.

Selain aku, banyak juga orang yang menunggu giliran, dan duduk dibangku panjang bersebelahan denganku. Selain membaca koran atau majalah yang disediakan, mereka juga memperhatikan sesuatu yang menarik perhatian.

Selama ini memang tidak ada yang menarik perhatian. Mereka hanya memperhatikan para mekanik mengerjakan tugasnya. Aku malah punya perhatian menarik, yaitu melihat gerakan kepala mereka yang menunggu giliran, kekanan dan kekiri mengikuti gerak para mekanik jalan kesana kemari. Mirip dengan gerak Kipas Angin berdiri.

Bangku panjang tempat duduk untuk menunggu giliran, tidak pernah kosong. Setelah selesai mereparasi kendaraan, pemilik motor mendatangi kasir untuk menyelesaikan pembayaran, sedang tempat duduk yang ditinggal sudah terisi oleh orang lain, yang juga akan menunggu giliran service.

Para Mekanik selalu melihat dan memperhatikan pendatang baru, sepertinya mereka mempunyai pelanggan khusus. Setiap pelanggan yang dikenal, selalu disambut dengan senyum sambil melambaikan tangan, mengisyaratkan bahwa si Mekanik akan segera menservice motornya dengan pelayanan khusus. Rupanya pelanggan khusus itu selalu memberi Tips lebih kepada Mekanik yang dikenal. Inilah bibit KKN dalam Bengkel.

Akhirnya selama waktu menunggu, aku punya perhatian menarik. Yaitu bagaimana ekspresi wajah mekanik yang berbeda dalam pelayanan kepada masing-masing pemilik motor.

Untuk pelanggan baru, salah satu mekanik  yang melayani menjelaskan,  dengan gaya yang semua orang mengerti tujuannya adalah Pelanggan harus memberi Tips, jika ingin kendaraannya lebih nyaman. Semakin besar Tips yang diberikan, maka semakin baik pelayanan dan semakin luwes penjelasan yang diterima oleh pemilik motor.

Yang menarik, pelanggan yang tidak mengerti aturan tak tertulis ini, atau pura-pura tak mengerti, akan menerima ekspresi wajah sinis dari mekanik, dengan matanya yang mengikuti dan tak melepaskan pandangannya sedetikpun, sampai pelanggan itu hilang ditelan jalan raya.

Wajah para pelanggan yang tak mengikuti aturan itu akan selalu diingat. Suatu saat ketika akan menservice motornya, para mekanik akan bersikap acuh tak acuh dalam melayaninya.

“Pak motornya sudah selesai, mari silahkan dilihat.” Kata salah satu mekanik kepadaku, sambil memperlihatkan motorku yang sudah siap dibawa.

Tangan mekanik mengusap-usap bodi motorku dengan lap bersih, agar kelihatan mengkilap. Pengalamanku selama penantian di bangku panjang itu cukup memberi aku pelajaran. Sambil mendekat kuselipkan uang kertas Lima Ribu Rupiah ke sakunya, mirip copet yang dengan mahirnya mengambil uang dari saku.

Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, diatas motor sebelum kutinggalkan bengkel, kulirik petugas mekanik itu tersenyum lebar sambil melambaikan kedua tangannya.

Belajar Dari Sungai

Air sungai mengalir deras gemericik, arusnya terpantul-pantul kesana sini oleh batu kali besar, sehingga menimbulkan suara riak yang ramai. Kakiku kurendam sebatas betis, dibawah lipatan celanaku dilutut.

Kuperhatikan aliran air sungai didekat kakiku yang kurendam sebelah kiri. Kilatan-kilatan cahaya riak air, tampak seperti butir-butir berlian yang ditumpahkan kekakiku. Lalu kurendam juga kaki kananku.

Air bening yang datang dari atas, jauh sana. Tak berhenti mengalir, tak pernah berhenti mengalir. Sejak dulu entah sampai kapan, air ini akan terus mengalir. Riak-riaknya tak pernah bosan berhenti, entah kapan mulainya.

Dingin air sungai, naik dari kaki ke perut bersamaan dengan hembusan angin diatas sungai yang bertiup searah, menambah dingin dan lembab hati ini. Pandanganku mulai tak jelas, seakan aku berada didalam air, didalam sungai ini.

Sampai selama ini aku tak tahu, apa tujuanku kesungai ini, berendam kaki. Apakah aku ingin menghanyutkan galau yang ada dipikiran,hati dan jiwaku ini?  mengalir bersama arus, yang tak tahu akan berakhir kapan dan dimana.

Atau aku ingin memberitahukan kekesalanku kepada batu, air sungai dan ikan kecil yang ada dipinggir. Sepertinya mereka akan berpura-pura tak mendengar, mereka lebih senang tak mendengar.

Atau mungkin mereka juga punya perasaan yang sama denganku, hati yang penuh sesak dan pengap, pikiran yang lemah, tua rentah, jiwa yang kecil dan labil, lalu tak dapat mengerti bagaimana cara menghadapi dan mengatasinya.

Suasana sungai yang dingin, riak-riak air yang tetap seperti berlian mengalir, batu-batu besar hitam yang tak pernah goyah, menunjukan sikap, bahwa kalian benar-benar memahami, kalau aku telah kalah.

Seharusnya aku sudah mengerti, itu semua bukan lawanku, aku tak akan bisa menang. Seharusnya aku belajar dari air sungai ini, dari batu ini dan itu, dari ikan-ikan kecil disitu. Mereka tak mau tahu angin akan berhembus kemana, searah atau berlawanan arah.

Perjalanan Pagi

Pagi hari tak lama setelah Matahari muncul aku naik Bis, dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya. Perjalanan yang akan memakan waktu hampir dua jam.

Ketika aku masuk, tempat duduk dalam Bis Patas sudah terisi penuh oleh penumpang. Bis berangkat setelah aku bersandar dikursi tempat duduk.

Tak lama setelah Bis meluncur, TV dinyalakan untuk memainkan film dalam video, melayani penumpang menikmati perjalanan.Kondektur mulai menarik ongkos, sambil menukar karcis, sebelum penumpang pulas tertidur.

Posisi tempat duduk dan jarak yang jauh antara aku dan TV, menjadikan aku tak jelas memahami film apa itu. Sebagian besar penumpang larut dalam tidur. Mereka bisa tidur nyaman karena tak terganggu oleh para penjaja makanan, minuman dan pengamen.

Akhirnya aku memiringkan badan, dan mengarahkan mataku kecendela, melihat pemandangan jalan yang hampir setiap hari kulihat. Aku senang melihat kesibukan orang-orang dipinggir jalan antara Malang-Surabaya.

Jalan penuh dengan mobil, sepeda motor dan manusia. Anak-anak sekolah tampak mulai berangkat, disetiap kota yang kulalui.

Ketika aku serius mengamati wajah-wajah pagi di pinggir jalan, aku merasakan ada yang mencolek pundakku.

Ketika kutoleh siapa orang itu? Ternyata Kondektur, dengan senyum pahit dia mengangguk sambil mengatakan:

“Karcis, Mas?”

Kuberikan satu lembar uang warna biru, kemudian dia mengembalikan sisanya berikut karcis, lalu pergi melanjutkan kekursi sebelah depan, tanpa aku dan kondektur itu saling mengucapkan terima kasih. Lalu aku kembali mengarahkan badanku ke candela.                       

Wajah-wajah orang dipinggir jalan semakin lama semakin kabur, terangnya Matahari pagi tampak semakin redup. Suara mesin, TV, penumpang yang bercakap-cakap dan klakson mobil lain dengan cepat menghilang, tak terdengar. Seperti acara sepak bola di TV yang ramai, tiba-tiba dimatikan.

“Mas,mas,mas… sudah sampai Bungurasih mas.”

Suara dan rasanya ada tangan jahil yang menggoyang-goyangkan pundakku, menghidupkan lagi cahaya Matahari, dan ramainya orang-orang diluar Bis. Baru aku sadar rupanya selama ini aku juga tertidur pulas.

Bis sudah berhenti. Beberapa tangan penumpang di angkat kaku keatas, dikejangkan sambil mulutnya terbuka menguap dan matanya terpejam rapat.

Penumpang mulai turun satu persatu, dari pintu depan dan belakang yang langsung disambut oleh sopir-sopir taxi, untuk menawarkan pengangkutan ketempat tujuan dengan lebih cepat dan nyaman.

Aku berjalan agak jauh, memilih naik Bis Kota. Aku yakin aku tak akan bisa tidur lagi di Bis ini.

Ayah

Ayahku begitu dekat denganku, dan dengan saudaraku semuanya. Masing-masing merasa dimanja oleh Ayah. Caramu mendidik sungguh sangat istimewa.

Aku tak bisa membedakan senang dan marahmu. Senangmu mengesankan, sedang marahmu bagai belaian kasih sayang.

Kehidupan sederhana yang kami jalani, terasa seperti kehidupan para bangsawan, karena Ayah mengajari kami cara menikmati kekurangan.

Sesuatu yang tidak mampu kami peroleh, Kau katakan masih dipinjam saudara diluar kota. Katamu waktu aku kecil:

“Mobil-mobil di jalan itu adalah milik kita, bisa kita pakai kapanpun kita mau.”

Gaya bahasamu membuat aku benar-benar percaya padamu.

Tujuh tahun sudah Ayah meninggalkan kami. Padahal pada awal-awal Ayah pergi, kami serasa tidak percaya, dan merasa tak akan sanggup hidup tanpa Ayah.

Ayah berjanji akan menggantikan kedudukan Ibu, ketika Ibu akhirnya tak mampu menahan sakit kerasnya dan harus pergi meninggalkan kami.

Janjimu memang telah kau tepati, tapi aku ingin Ayah menggantikan Ibu lebih lama, tidak secepat itu.

Rasanya aku ingin mengenalkan Kau dengan cucu-cucuku nanti. Aku ingin Kau menggantikan aku, menggantikan anak-anakku dan menggantikan semuanya.

Dan itu tidak Kau lakukan.

Prinsip kejujuran adalah merupakan warisan Ayah satu-satunya, yang di bagi rata untuk anak-anaknya.

Sampai saat ini aku masih merasakan kaehadirannya. Sesuatu yang tak disenangi oleh Ayah, masih takut aku melakukannya. Seakan matamu masih hidup dan selalu mengawasi kami.

Bentakan marah, yang sering Kau lontarkan karena perbuatan salah kami, masih terdengar nyaring sampai kini. Bentakan sayang yang menjadi penghalang kami untuk tidak mengulanginya.

Kau selalu mengulang-ulang kata:

“Apa arti kesuksesan tanpa kejujuran?”

Kadang kau ucapkan dengan senyum, kadang juga kau ucapkan dengan teriak. Keduanya mengikat menjadi satu dalam pikiran kami.

Kata-kata halusmu dan kata-kata kerasmu mengajari aku cara menjadi Ayah. Kau menunjukan padaku cara yang indah untuk mencintai Ibu, mencintai Ayah, mencintai Saudara, mencintai Anak bahkan mencintai musuh.

Kau tidak mengajari aku Sabar dengan kata-kata, itu tidak cukup. Tapi Kau mengambil hatiku lalu mencetaknya menjadi Sabar.

Tentang Tuhan, katamu:

“Kita semua di tunggu oleh Tuhan.”

“Sepertinya, Tuhan tak sabar menunggu kita.”

“Tempat yang nikmat sudah disediakan untuk kita.”

Suarumu hampir hilang, tidak jelas, karena hidungmu tertutup oleh corong Oksigen. Tapi Kau sempatkan sebuah senyuman dibibirmu yang kering.

Selamat jalan Ayah, Terima kasih.

Pemberianmu melebihi permintaanku.

Karyawan

Pagi-pagi gerombolan para pegawai pabrik berdatangan muncul dari segala penjuru. Kedatangan mereka tak lama setelah Matahari terbit.

Kebanyakan mereka berjalan kaki, satu atau dua yang bawa motor ada juga yang naik ojek. Mereka berjalan cepat seperti berharap sampai dipintu pabrik paling dulu.

Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dengan usia yang relatif muda. Dari cara berjalan terlihat mereka menganggap seperti pergi kesekolah.  Senda gurau mereka bagai anak SMP. Mungkin mereka masih ingin sekolah, tapi keadaan memaksa mereka seperti ini.

Wajah-wajah lucu tanpa gincu, dipoles bedak agak tebal, berharap bedak itu masih tetap awet hingga sore hari.

Mereka berhenti dan menanti dipintu gerbang pabrik, bergelayutan dipagar bagai tahanan dari balik jeruji. Mereka sabar menunggu pintu gerbang dibuka untuk memulai pekerjaan,tak mau terlambat, takut gaji dipotong.

Ketika Satpam membuka pintu gerbang pabrik, para karyawan berlari berebut tempat didalam gedung. Suasana sunyi kembali, tak terdengar apa-apa.

Siang hari waktu istirahat, hanya sebagian kecil saja yang terlihat keluar pabrik untuk makan diwarung. Sedang yang lain sisanya kemana?

Makan apa?

Makan dimana?

Sore hari mereka bergegas untuk pulang dengan wajah yang beda dengan waktu pagi. Wajah yang menggambarkan keletihan, tak ada lagi senda gurau, tak ada lagi ketawa-ketawa dan tak ada lagi duduk-duduk menunggu.

Mereka berharap segera sampai dirumah untuk tidur, istirahat. Esok hari kegiatan rutin seperti ini akan diulang lagi.

Susu Kambing

Hari Minggu kemarin aku berkunjung kerumah Pamanku, di desa yang letaknya cukup jauh dari rumahku. Sekalian, kepergian ini sebagai liburan akhir pekan, yang kunikmati sendirian. Maksudnya liburan yang tidak melibatkan keluargaku.

Karena letak rumah Pamanku cukup jauh dan perjalanannya melelahkan, maka aku berangkat hari Sabtu untuk menginap satu malam. Aku tak mau melewatkan pagi hari yang cerah dan sejuk di desa itu. Dengan melihat pemandangan gunung yang berwarna kuning karena pantulan cahaya fajar pagi.

Sebenarnya yang menjadi tujuanku ke rumah Pamanku didesa, bukan hanya ingin menikmati suasana desa, tapi adanya peternakan kambing milik Pamanku itulah satu-satunya tujuanku kesana.

Banyak nya jumlah kambing milik Pamanku yang terpelihara dengan sehat dan bersih, menjadi perhatian banyak orang khususnya aku.

Apalagi jenis kambing yang diternakkan adalah jenis kambing bibit unggul. Kambing yang mempunyai postur tubuh yang besar dan tinggi, yang bernama Kambing Peranakan Ettawa atau Kambing PE.

Anak-anak kambing yang mungil dan lucu serta banyak jumlahnya, mengundang siapa saja yang melihat bakal ingin menggendong dan menimangnya.

Kambing unggul ini juga menghasilkan susu, yang sekarang ini mulai banyak diminati orang, karena sangat menyehatkan tubuh, khususnya untuk kesehatan Paru-Paru.

Pagi hari yang indah, udara sejuk, dingin, bersih dan segar, ditambah dengan segelas  susu kambing, melengkapi kesempurnaan nikmat.

Susu yang mengalir ditenggorokanku, terasa benar rasa dan manfaatnya. Hatiku seakan tercuci bersih mengkilap, jiwaku terpoles menjadi putih bening. Kontan saat itu juga aku memaafkan siapa saja yang pernah berbuat salah padaku. Semua dendam yang ada di Hati, Jiwa dan Pikiran menjadi luntur dan lenyap.

Mataku jadi bersinar terang, semua apa yang aku lihat tampak seperti tersenyum. Pak Tani yang lewat didepan rumah Pamanku kelihatan muda dan ganteng, dengan senyum manis menyeringai, di ikuti oleh senyum seluruh keluarga. Dua ekor sapi yang dituntun berjalan mengangguk-angguk sambil tertawa malu.

Tak ada alasan bagiku untuk tidak kerasan tinggal di desa ini. Desa dan penghasilannya yang menyehatkan Jasmani dan Rohani.

Cermin

Aku berjalan tak tentu arah, tak ada tempat yang layak bagiku untuk berdiam diri. Tak ada tempat yang cukup luas bagiku untuk bernapas lega, mengenyahkan sampah-sampah beban yang ada di hati dan pikiranku. Apalagi dirumahku sendiri, rumah sempit yang hanya cukup untuk tubuhku.

Aku berdiri di salah satu sisi kamarku. Kulihat seseorang yang juga berdiri  dikamarku, tajam menatapku, seseorang yang tak asing bagiku. Seseorang yang sangat aku kenal.

Kudekati dia, kuhadapkan wajahku lurus tepat kewajahnya, kematanya. Ku amati gaya dan penampilannya dari kaki sampai kepala. Tampaknya dia sedikit tegang.

Kusapa. “Hai !”

Kau diam saja. Ku ulangi lagi “ Hai, kau!”

Kau tetap diam. Aku tahu siapa kau, dan kau juga tahu siapa aku. Wajahmu memberikan aku seribu arti. Aku bisa merasakan apa yang ada dalam hatimu.

Kau pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak merasakan apa-apa. Kau pura-pura tenang dan masa bodoh. Kau pandai atau terpaksa pandai bersandiwara.

Memang jika dilihat dari pandangan matamu, sepertinya kau tidak merasakan apa-apa. Pandangan matamu berat berisi, tidak kosong.

Kalau dilihat dari raut wajahmu, tampak sekali kau memang pandai menyimpan rahasia. Rahasia yang tidak ada orang lain tahu kecuali aku. Aku tahu rahasiamu, yang bahkan mungkin kau sendiri tidak tahu.

Kau tampak ceria berseri-seri. Kau tampak bahagia. Siapa saja yang melihatmu pasti akan menganggapmu bahagia.

Rambutmu kau sisir lurus, kau kelihatan rapih, menandakan kau sepertinya bisa mengatasi segala persoalan, segala masalah yang ada didalam hati dan pikiranmu.

Padahal kau tidak seperti itu, kau tidak persis seperti yang ada disitu. Apa yang tampak di wajahmu beda dengan yang ada dibalik wajahmu.

Aku bisa melihat dengan jelas bahwa hatimu hancur berantakan. Kau takut bahkan takut hanya untuk bisa melihat kehancuran hatimu.

Aku bisa melihat dengan sangat jelas pikiranmu kacau, kau tak bisa berpikir sehat. Apa yang kau lakukan selama ini sama sekali bukan hasil dari pikiranmu.

Yang mampu kau lakukan saat ini hanyalah berdiri kaku didepanku, berdiri tegak dengan mata dan wajah pura-pura gembira. Mata yang hanya bisa menatap lurus kedepan, tak mau menunduk, takut terlihat apa yang ada dalam hatimu.

Apakah memang perlu untuk tampak apa yang ada dalam hati?

Apakah perlu bisa dilihat dengan jelas, oleh orang lain apa yang ada dalam pikiran?

Apakah akan lebih baik jika orang lain ikut mengetahui apa yang ada dalam hati dan pikiran?

Kekacauan apapun, berantakan bagaimanapun, yang ada didalam pikiran dan hatimu biarlah tetap disana. Biarlah tetap seperti itu. Tak mudah untuk dirapihkan, tak akan mudah untuk diselesaikan.

Kau ternyata lebih bagus tampak seperti ini. Lebih bagus tampak gembira seperti ini, sementara hati yang berada dibawah wajahmu hancur.

Janganlah ada sesuatu yang bisa menampakkan dengan jelas apa yang ada dalam hatimu. Bahkan cermin ini.

Kalau memang cermin ini bisa memperlihatkan isi hati dan pikiran, maka sudah selayaknya cermin ini harus segera dipecahkan, dihancurkan.

Tapi sebenarnya tak ada orang yang bisa melihatnya, kecuali kau dan aku, kecuali kita. Kita adalah satu. Aku melihat engkau dalam cermin.

Pak Tua

Angkutan Kota Malang pada umumnya ramai penumpang disemua jalur, khususnya angkutan jalur AG, jalur yang melewati Pasar Besar dan beberapa Mall serta pertokoan-pertokoan besar.

Selesai dari urusan pekerjaan, karena buru-buru untuk pulang. Tanpa pilih-pilih aku terpaksa naik sembarang Angkot Jalur AG yang muncul lebih dulu.

Akhirnya aku mendapatkan Angkot yang sudah penuh sesak. Tinggal satu bagian kecil tempat duduk ditengah, yang sebenarnya tidak cukup untuk bokongku. Sopir melanjutkan perjalanan tanpa melihat aku sudah duduk dengan sempurna.

Kutoleh ke kanan kiri, hampir semua penumpang berpeluh dan dibagian atas bibirnya ada bintik-bintik air keringat. Panas udara siang hari ini menjadi berlipat rasanya didalam Angkot, menjadikan sangat tidak kerasan untuk tinggal lebih lama.

 Suasana Angkot memaksa penumpang malas untuk saling tegur sapa.

Seorang Bapak Tua berbadan kecil duduk tepat didepanku. Terpaksa terhimpit diantara dua lelaki berbadan tegap. Sesak dan Panas dalam Angkot menyusahkan si bapak bebas menolah noleh, dengan tangannya yang terpaksa ditumpuk karena himpitan.

Merasa iba dengan Bapak Tua itu, lelaki disebelah kanannya dengan berat hati mencoba untuk beramah tamah mengajaknya bicara:

“Mau kemana Pak?” Tanya lelaki tegap itu.

Bapak Tua menoleh tepat kearah wajah lelaki tegap disampingnya lalu menjawab:

“Mau Pasar Malang.”  Sambil kembali menghadapkan wajahnya lurus kedepan.

“Dimana rumahnya Pak?” Lelaki itu mencoba lagi memaksakan diri lebih ramah.

“Di Kepanjen.” Jawab Pak Tua setelah kembali menoleh ke lelaki itu.

“Ooh. Kepanjen.” Kata laki itu memperjelas jawaban Pak Tua.

“Iya. Dari Kepanjen kamu terus saja sedikit sampai ketemu jembatan.” Kata Pak Tua itu menambahkan.

Lelaki tegap itu manggut-manggut tanpa mengeluarkan kata-kata.

“Setelah ketemu jembatan, kamu belok kekanan.”  Kata Pak Tua.

Lelaki tegap itu tampak mulai merasa lebih gerah.

“Setelah belok kanan terus saja sampai mentok, terus belok kanan lagi.” Kata pak Tua sambil melihat tajam kewajah lelaki itu, khawatir kata-katanya kurang jelas.

“Setelah belok kanan sampai Pos Jaga, terus kamu belok kiri.” Lanjutnya.

“Setelah belok kiri sampai ketemu Kelurahan, terus kamu belok kanan.”

Lelaki tegap itu menoleh ke arahku, lalu kesetiap mata penumpang lainnya, tanda bingung dan menyesal beramah tamah dengan Bapak Tua itu.

“Setelah belok kanan, terus kamu belok kiri lagi kearah jalan naik.”

Setelah berhenti sejenak dari bicara, Pak Tua menoleh ke arah wajah lelaki tegap disampingnya untuk melanjutkan penjelasannya.

“Setelah jalan naik, kamu teruskan sampai jalan turun kearah kali”

Pak tua menunggu sebentar barangkali ada pertanyaan dari lelaki itu.

 “Sebelum kali kamu belok kanan lurus mengikuti jalan antara kali dan sawah .“ Kata Pak Tua dengan senyum dan wajah lebih cerah, seakan ingin menunjukan bahwa rumahnya sudah tidak jauh lagi.

“Setelah lurus sampai mentok, baru kamu belok kanan. Nah tidak jauh dari situ ada rumah warna merah.”

Lelaki itu menoleh ke arah Pak Tua berharap bapak itu berhenti bicara.

“Didepan rumah merah itu ada jalan naik, kamu naik saja terus keatas.”

Pak Tua itu istirahat bicara sejenak untuk bernapas beberapa kali.

“Sampai kamu ketemu pohon beringin, kamu noleh kekanan, nanti disana ada rumah warna hijau.”  Lanjut Pak Tua.

“Nah kamu masuk ke rumah hijau itu, tanyakan dimana rumah Pak Wiryo.”

Pak Tua menoleh dan menatap wajah lelaki sambil tertawa, memastikan  lelaki itu tidak akan kesasar kalau mau mampir kerumahnya.

“Nanti akan ditunjukan sama penghuni rumah warna hijau itu, kalau rumah Pak Wiryo ketiga dibelakang rumah warna hijau itu.”

“La ya saya ini yang namanya Pak Wiryo itu. Ha.hahaha… Gampang bukan.”

Pak Tua terus tertawa terkekeh-kekeh puas dengan penjelasannya, sambil tetap menatap wajah lelaki itu.

“Saya rasa penjelasan saya sudah cukup, tapi kalau kamu minta saya mengulanginya, dengan senang hati saya siap.” Kata Pak Tua melanjutkan.

Kontan lelaki tegap itu memencet bel minta diturunkan dari Angkot disini juga, tidak tahan dengan ocehan Pak Tua itu.

Suasana panas siang hari dan pengap Angkot sedikit tersirami dengan dialog antara Pak Tua dan lelaki tegap disampingnya.