Ide Yang Tidak Bisa Keluar

Saat aku di depan monitor, berbagai huruf lengkap terpampang di keyboard, tapi tak satupun rangkaian kata sanggup aku keluarkan. Walau aku berusaha mengeluarkan, tapi selalu gagal. Aku bisa membayangkan banyaknya ide yang menggelembung-gelembung dalam ruang kepalaku, dalam keadaan terkunci rapat. Tak ada sedikitpun lubang yang bisa mengeluarkannya. Kini aku hanya bisa berusaha menceritakan keadaan itu.
Menceritakan betapa sulitnya aku berusaha menulis, adalah lebih mudah dari pada berusah menulis ide yang ada di kepalaku, tapi tak bisa di keluarkan. Aku sudah berusaha keras mengeluarkan satu saja ide yang ada di kepalaku. Tapi tetap aku tak sanggup. Sepertinya ada cara, atau ada teori yang bisa memberikan kunci untuk membuka pintu ruangan yang ada di kepalaku, yang berisi berbagai macam ide. Nampaknya sekarang aku masih belum mempunyainya.

Padahal aku sudah mencoba untuk menuangkan ide-ide yang relatif mudah, seperti menulis tentang hal-hal lucu. Yang mana dalam kehidupan sehari-hari, aku ini terkenal banyak mempunyai cerita lucu. Tapi ketika berhadapan dengan monitor siap untuk menulis, tiba-tiba cerita lucu itu pada berlarian semua, pergi menjauh dari kepalaku, entah tak tahu kemana. Aku seperti orang yang sama sekali tidak lucu lagi.
Kenapa harus jadi seperti ini? Apakah ini merupakan fenomena atau proses untuk menjadi mahir menulis? Atau bahkan ini merupakan pertanda bahwa aku memang bukan seorang yang berbakat untuk jadi penulis. Dalam beberapa hari terakhir memang di kepalaku selalu berkecamuk pikiran-pikiran negatip seperti itu. Karena kurangnya pengetahuan dasar mengenai dunia penulisan, jadi aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapai keadaan ini.

Satu-satunya jalan ialah aku harus tutup mata menghadapi kenyataan ini. Aku harus menganggap ini adalah sebagai kendala-kendala yang harus diabaikan, kendala yang menghambat ini memang harus di lewati. Aku harus menganggap setiap penulis akan melalui masa-masa seperti ini, entah sampai berapa lama. Aku harus benar-benar yakin bahwa aku bisa mewujudkan mimpiku sebagai seorang penulis.

Untuk memberikan keyakinan dan kepastian, maka aku harus punya batasan waktu, untuk melihat sampai sejauh mana perkembangan kemampuanku. Kalau kembali kepada rencana awal, target aku sudah mempunyai kemampuan dalam tulis menulis ialah sampai akhir Bulan April 2012. Untuk penulisan setiap hari minimal Seribu Kata selama dua bulan, sudah sangat bagus sekali. Dan diharapkan harus sudah nampak hasilnya. Tapi aku kurang jelas sampai kini. Apakah target itu hasilnya hanya untuk memudahkan menulis, atau juga sekalian untuk memudahkan mengeluarkan ide.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya, jika seseorang yang mempunyai kemahiran dalam menulis, tapi tidak punya kemahiran dalam nenuangkan ide. Apakah mungkin ada hasil karya tulis, jika tidak ada ide yang tertuang didalamnya? Aku juga tidak tahu sampai saat ini, apakah ide dan kemampuan menulis itu sesuatu yang berbeda? Dan merupakan dua disiplin ilmu yang berdiri sendiri-sendiri.

Yang aku rasakan saat ini adalah sulitnya memulai untuk membuka kata. Aku masih belum punya ide apa-apa, dalam pikiranku sama sekali kosong dari ide. Maka bagaimana aku bisa memulai menulis, jika aku tidak punya bahan materi berupa ide yang akan aku tulis. Walau saat ini aku sudah menulis sampai Delapan Paragraf, tanpa ada ide yang aku pakai sebagai bahan, tapi tulisan ini hanya berkisar disekitar kesulitan aku membuat karya tulis. Dan ini adalah tulisan yang kedua mengenai kesulitan di dunia tulis menulis yang aku alami.

Untuk penulisan yang berikutnya, sudah tidak mungkin lagi aku akan menulis hal yang sama seperti ini. Mudah-mudahan dua tulisan yang terakhir ini sebagai pembuka, untuk memudahkan aku mengeluarkan ide yang ada di kepalaku. Supaya aku sudah bisa melihat hasil, dari usaha yang aku lakukan beberapa hari ini. Aku ingin setiap mulai duduk di depan monitor, maka saat itu juga ide keluar dari kepalaku, lalu aku dengan lancar menuangkan ideku kedalam tulisan. Amin.

Oke lah tidak harus, di awal-awal hasil karya tulisannya musti berkwalitas. Tapi yang benar-benar aku inginkan ialah, ide bisa dengan lancar keluar dari kepalaku tanpa hambatan sama sekali. Setelah lancar mengeluarkan ide, tentu masalah yang berikutnya adalah meningkatkan kwalitas hasil tulisan. Dan bisa di pastikan juga, masalah yang berikutnya akan selalu muncul lagi dengan jenis yang berbeda dan bertambah sulit.

Advertisements

Doa Yang Belum Terkabul

Kenapa doaku belum terkabul? Pertanyaan ini terus mengikuti pikiranku setiap hari. Kadang aku bisa tenang, artinya pertanyaan itu aku jawab sendiri, dengan jawaban yang aku kira-kira sendiri. Lalu tak lama kemudian muncul lagi dan menggantung di pikiranku, tanpa bisa terjawab lagi. Sebenarnya pertanyaan dan jawaban yang kuberikan sendiri itu tidak berlandaskan pemahaman. Artinya aku belum memahami betul apa itu doa yang sebenarnya, bagaimana, syarat-syaratnya apa dan apakah doa yang terkabul itu harus terjawab sesuai dengan permintaan. Apalagi jawabannya, bagaimana aku bisa memberikan jawaban sementara aku belum memahami pertanyaannya.

Sering aku mendengar ungkapan bahwa doa akan terjawab nanti di Alam berikutnya, atau juga doa harus di iringi oleh usaha. Berbagai pemahaman yang berhubungan dengan doa sebenarnya semakin membingungkan aku. Karena yang aku fahami adalah;

* Mendesaknya kebutuhanku,
* Pengakuan akan semua kesalahanku dan
* Permohonan kepada Allah Maha Kuasa dan Maha Penolong.

Yang terakhir ini saja sebenarnya sudah cukup untuk terpenuhinya semua permintaan doaku.
Sebenarnya jika saja bukan masalah waktu yang sangat mendesak, mungkin aku masih bisa berusaha dengan segala cara, yang halal tentunya. Tapi kebutuhan yang terbatas oleh waktu, tentu akan sulit dan sangat mengganggu pikiran. Orang lain yang menjadi korban tidak mau mengerti dengan keadaanku, karena kedua belah fihak harus komitment dengan perjanjian sebelumnya. Allah berjanji, akan mengabulkan doa yang tulus diberikan, tanpa melihat apa dan bagaimana si peminta.

Aku benar-benar mengakui, bahwa akibat yang aku alami sekarang ini tidak terlepas dari tindakan salah, yang dengan sengaja aku lakukan. Aku tidak menafikan itu semua sama sekali. Tapi bukankah hampir semua akibat itu terjadi akibat dari tindakan kesalahan, yang di lakukan oleh pelaku atau oleh orang lain. Dalam kasusku memang aku sendirilah pelaku kesalahan. Tapi apakah kesalahan yang aku lakukan sendiri itu, berarti sebagai tanda bahwa doa tidak akan di kabulkan? Aku benar-benar yakin bahwa Allah akan mengabulkan semua permintaan Doa hambanya.

Selain aku sudah berusaha dengan cara lain, maksudnya selain aku bekerja mengusahakan penghasilan, aku juga berusaha dengan meminta bantuan kepada orang lain. Tapi tentunya ini tidak bisa dilakukan terus menerus, pasti ada batasnya. Sedang permintaan doaku kepada Allah, tidak pernah lalai, artinya selalu aku panjatkan lebih-lebih dengan keadaan waktu yang mendesak ini.

Dalam rentang waktu yang mendesak inilah yang sangat mengganggu aku. Sehingga timbul pikiran-pikiran negatif, yang semakin mengganggu jiwaku. Misalnya begini, munculnya pikiran Mengapa Allah belum mengabulkan permintaan doaku? Padahal jika aku meminta bantuan kepada orang lain, misalnya temanku, dan aku meminta dengan cara sedikit memaksa, tentu dia akan mengabulkan dan setuju memberikan bantuan. Padahal bagaimana aku bisa membandingkan Allah dengan temanku?

Dalam berdoa aku sudah melakukan berbagai cara. Banyak bacaan doa yang telah aku lakukan. Begitu juga dengan berbagai tawasul, atau perantara fihak lain yang berhak. Serta yang penting lagi adalah selain aku mengakui semua perbuatan salahku, aku juga mengakui ketidak mampuanku untuk berdoa dengan benar. Allah lebih mengerti maksudku dari pada diriku sendiri, jadi sebenarnya Allah tidak perlu lagi di jelaskan.

Kalau memang ada yang salah denganku, tentu pasti ada yang salah denganku, akupun sudah dan akan terus memohon ampun kepada Allah. Jika ada lagi yang lain yang aku tidak mengetahui, dan itu adalah sebagi salah satu penyebab tak tersalurkannya doaku kepada Allah, maka akupun memohon kepada Allah untuk memakluminya.

Masalahnya adalah permintaanku ini sangat berhubungan erat dengan hajat orang lain. Artinya yang aku minta bantuan ini adalah, masalah hutang piutang. Bukan hanya masalah hajatku sendiri saja. Aku telah mengecewakan orang lain. Aku telah menjadikan orang lain marah, susah dan tidak suka padaku. Itulah yang sangat mengganggu pikiran dan jiwaku. Aku paling tidak suka mengganggu ketentraman orang lain.

Aku juga memohon kepada Allah, kalau memang ini ujian buatku. Tolong bantulah aku untuk memahaminya. Bagaimana aku bisa mengerti semua ini, karena aku benar-benar meminta dengan tulus, dan permintaanku ini karena alasan yang benar, dan aku bukannya meminta uang tunai dengan mudah tanpa usaha, seakan uang itu langsung jatuh dari langit. Tapi berilah aku petunjuk atau jalan, atau entah bagaimana cara Mu Ya Allah, Engkau beri aku peluang untuk bisa mendapatkan penghasilan, agar aku bisa membayarkan tanggunganku.

Aku semakin khawatir dengan gangguan setan iblis yang menyelinap kedalam pikiranku, di saat aku dalam kesulitan ini. Hanya kepada Mu aku berlindung Ya Allah. Dan aku serahkan semua masalahku pada Mu. Walau aku sudah berusaha dan berdoa, aku tetap menghadapi semua tanggung jawabku. Dan yang penting juga aku akan tetap sabar menerima keadaan ini. Tak ada yang lebih penting dari sabar menerima.

Mudah-mudahan ini akan segera berakhir, dan aku bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Tidak menyusahkan orang lain lagi, termasuk tidak menyusahkan keluargaku sendiri. Yang sangat penting ialah aku bisa berdoa kepada Allah dengan tenang, tanpa beban yang mengganggu ketulusanku. Aku yakin se yakin-yakinnya Allah pasti melihat dan mengetahui keadaanku dan ini memang merupakan kehendak Nya. Jadi sebenarnya apa yang aku takutkan. Aku juga berharap keadaan ini semakin memperkuat keyakinanku kepada Mu Ya Allah, dan kecintaanku kepada Nabi Mu dan Keluarga Nya yang Suci.

Doa Adalah Penyejuk Hati

“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, maafkanlah semua kesalahanku, mudahkanlah semua urusanku dan lunaskanlah semua hutang-hutangku.” Doa ini selalu aku panjatkan pada setiap selesai sholat, atau selesai membaca doa-doa lain atau bahkan setelah selesai melakukan apa saja. Kadang-kadang tanpa ada pekerjaan khusus, ketika aku mengingat keadaanku maka aku langsung panjatkan doa. Selalu doa itu aku mulai dan akhiri dengan solawat.

Doa itu akhirnya menjadi nyanyianku sehari-hari. Aku merasa belum melakukan hal-hal yang penting, sebelum melantunkan doa itu. Doa itu selalu mengingatkan aku pada keadaanku. Dan doa itulah yang memberi aku semangat untuk tetap melanjutkan perjalanan hidup ini. Walau sampai saat ini aku masih belum merasakan hasil yang signifikan dari doa itu.

Sebenarnya inti dari doa itu adalah pada kata-kata terakhirnya. Adanya Hutang-hutang yang kumiliki menjadikan aku harus selalu memanjatkan doa itu. Hutang-hutang itu sebenarnya relatif tidak banyak. Tapi jumlah hutang itu tergantung dari kemampuan seseorang untuk membayarnya. Artinya walau jumlah hutang nya itu Milyaran, tapi si penghutang punya kemampuan untuk mengembalikannya, maka hutang itu menjadi tidak ada masalah. Tapi walaupun hutang itu hanya Ribuan Rupiah saja, tetapi jika si penghutang tidak punya kemampuan untuk mengembalikan atau membayar, maka hutang yang sedikit itu akan menjadi masalah besar.

Begitu juga dengan keadaanku, hutang yang kumiliki menjadi masalah besar sekali bagiku, walau relatif tidak terlalu besar, bahkan untuk ukuran keadaanku. Artinya jika aku utarakan pada semua orang yang mengetahui keadaanku sebelumnya, tentu tidak percaya kalau aku tidak bisa membayarkan hutang-hutangku. Bahkan aku sendiri seakan tidak percaya, sampai saat ini belum bisa membayarkan hutang-hutangku, atau cicilan-cicilan yang harus aku bayarkan tersendat-sendat.
Kenapa sih sebenarnya keadaanku jadi seperti ini?

Apa yang salah dengan pekerjaanku?

Setelah aku menempati rumah baru bersama keluarga. Saat itu juga aku tidak mempunyai pekerjaan tetap. Pekerjaan pertanian yang aku rintis sudah aku akhiri, karena secara perhitungan tidak menguntungkan. Begitu juga dengan pekerjaan-pekerjaan sebelumnya, yang akhirnya aku hentikan supaya tidak menambah besar beban hutangnya. Akhirnya beban-beban hutang dari pekerjaan-pekerjaanku sebelumnya menumpuk sampai sekarang.

Mungkin berat untuk di akui, bahwa memang sebenarnya sejak awal aku tidak bekerja dengan menggunakan managemen yang benar. Walau aku bekerja dengan cukup keras, tapi kesalahan managemen bisa berakibat kerugian dan ke gagalan. Hutang-hutang yang seharusnya sejak awal di antisipasi untuk tidak membengkak seperti sekarang ini. Mungkin waktu itu aku masih berharap bisa melanjutkan pekerjaanku lalu bisa melunasi hutang-hutangku.

Memang pahit rasanya jika mengingat masa-masa lalu. Masa dimana teman-temanku sedang dalam perjalanan memasuki era kesuksesan. Bersamaan dengan itu aku berada dalam perjalanan memasuki era kegagalan atau kejatuhan. Memang tidak semua orang harus sukses, tapi sebaiknya tidak semua orang harus gagal. Dalam perlombaan lari cepat, memang tidak bisa semua menjadi juara satu, tapi semua harus mencapai finish. Aku merasa perjalananku menuju ke arah Garis Start.

Kalau aku melihat dari sisi kacamata yang berbeda. Aku selalu mengeluh kepada Allah, mengapa harus aku yang berada dalam keadaan seperti ini? Sementara aku lihat beberapa orang yang “sukses” dalam artian berada pada tingkat kemampuan Financial yang bisa dikatakan berlimpah. Sedang sikap yang di milikinya menunjukan sikap yang kurang baik. Selain sombong, kikir, memeras keringat karyawannya berlebihan dan memiliki beberapa sifat yang kurang baik lainnya.

Aku tidak menganggap diriku adalah orang baik, tapi aku bisa menganggap bahwa diriku ini bukan orang jahat. Atau orang yang punya sifat jelek seperti di jelaskan tadi. Aku juga tidak meminta berada dalam keadaan yang berlimpah dalam hal Financial. Cukup bagiku tidak terlilit oleh hutang yang aku tidak bisa membayarnya.

Kalau memang keadaanku ini adalah akibat dari dosa-dosa yang aku lakukan di masa lalu, atau bahkan dosa-dosa yang akan datang. Maka aku memohon dari dasar hatiku ampunan kepada Mu ya Allah. Bukankah Engkau Maha Pengampun, dan aku yakin Engkau akan mengampuni aku. Karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosaku, kecuali hanya Engkau ya Allah.

Lalu bukannya aku meminta bantuan uang, yang langsung jatuh dari atas langit, yang mana itu sudah pasti tidak mungkin. Aku hanya minta apa yang aku upayakan ini Engkau lindungi, dari kesalahan jalan yang ujungnya berakhir pada kegagalan.Aku sudah tak ingin lagi mengalami kegagalan, umurku sudah tidak muda lagi. Sulit bagiku untuk merintis lagi pekerjaan seperti yang aku lakukan pada masa muda.

Saat ini sudah jauh sekali hayalan atau cita-citaku untuk menjadi orang kaya. Kemampuan fisik dan permodalan serta bantuan dari teman-teman sudah tidak mungkin lagi aku peroleh dengan mudah. Tapi walaupun begitu bukan berarti aku akan menjadi putus asa untuk tetap berusaha. Peluang apapun akan aku coba untuk usahakan, walau harus dengan perhitungan yang matang.

Justru keadaan sekarang ini yang di bebani oleh hutang, menjadikan aku sebagai penghambat. Beban-beban hutang itulah yang memberatkan aku untuk bisa berpikir jernih. Fokus pikiranku hanya pada bagaimana caranya bisa membayar hutang, tanpa bisa berpikir bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan.

Maka doa-doa itulah yang sekarang ini aku pakai sebagai penyemangat. Doa-doa itu aku anggap sebagai titik api harapan, yang minimal bisa menyejukkan hati, yang bisa menenangkan hati dan pikiran. Mungkin Allah ingin memberi aku pelajaran, bagaimana aku bisa menghadapi masalah seperti ini.

Semangatku jadi hidup kembali, setelah salah satu teman mengirim sms yang panjang sekali, yang intinya adalah:
Mungkin kita pernah melihat atau mendengar kisah, seseorang yang mengalami kemunduran, lalu tiba-tiba melesat kedepan dengan cepat meraih kesuksesan. Itu bisa di umpamakan seperti anak panah. Ada masa-masa anak panah itu melesat maju kedepan, ada masa anak panah itu istirahat di dalam tabungnya, ada juga masa anak panah itu bergerak mundur kebelakang, membuat ancang-ancang untuk mencapai sasaran.Kita bagai Anak Panah di Tangan Tuhan yang sedang di tarik kebelakang, semakin kuat tarikannya, maka akan semakin cepat kita mencapai sasaran. Allah adalah sebaik-baik pemanah.

“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, maafkanlah semua kesalahanku, mudahkanlah semua urusanku dan lunaskanlah semua hutang-hutangku.”

Kini doa ini semakin berarti bagiku. Apapun keadaan yang aku alami, itu adalah keadaan yang terbaik bagiku.

Perjalanan Lintas Cangar

Liburan Jumat ini, benar-benar mengesankan. Acara yang sangat tidak di duga-duga ternyata menjadi suatu perjalanan yang sangat mengasyikkan. Mulanya pada malam Jumat rencana di adakan dengan setengah hati, tapi esok harinya dengan jumlah teman yang tidak lengkap, justru menjadi motivasi untuk tetap melaksanakan perjalanan.

Sampai jam 10.00 pagi, mobil yang di rencanakan di pastikan tidak bisa di pakai. Setelah beberapa alternatif, akhirnya terpaksa menggunakan mobil salah satu teman, yang sebenarnya tidak di rencanakan sebelumnya, karena khawatir dengan keadaan mobil tersebut. Tapi ternyata selama perjalanan tidak ada masalah sedikitpun dengan mobil tersebut.

Sebenarnya pada awal-awal keberangkatan. Secara pribadi aku agak was-was, sampai ada terbesit rasa agak keberatan, malah merasa jika tidak jadi berangkat mungkin lebih baik. Alasan mungkin dari mobil yang di gunakan, lalu mengenai keramaian kendaraan di jalan, dan kemungkinan besar macet di jalan serta beberapa teman yang mengundurkan diri untuk ikut.

Salah satu teman yang dari Surabaya, ngotot untuk terus memberi semangat agar tidak punya pikiran untuk membatalkan rencana. Kesempatan untuk kumpul bersama, lalu mengadakan perjalanan bersama-sama pula, adalah kesempatan yang tidak mudah di dapat. Untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan, maka perjalanan ini tidak boleh di tunda. Akhirnya dengan berbagai macam campuran semangat, dan tersedianya mobil, maka berangkatlah kita semua menuju Kota Batu pada pukul 10.30.

Memang tidak salah pada awal perjalanan, jalan raya penuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Sehingga laju kecepatan sangat lambat sekali. Perjalanan kurang dari 20 Km, di tempuh dalam waktu satu jam. Tapi jalan yang tadinya kita khawatirkan macet di daerah Kota Batu, ternyata cukup lengang, dan perjalanan selalu lancar, tidak pernah terhambat oleh kemacetan serius.

Setelah memilih salah satu Masjid di dekat Kota Batu, untuk melaksanakan sholat Jumat. Kami melanjutkan perjalanan, dengan tujuan pertama adalah mengisi perut di Warung “SIDIK” di Kota Batu. Sebuah warung yang terkenal dengan Nasi Rawon –nya. Untung di warung itu pengunjung tidak terlalu padat, sehingga kami rombongan Tujuh Orang, tidak kesulitan mendapatkan meja kursi.
Setelah menikmati makan dan minum, kami melanjutkan perjalanan dengan mampir kerumah salah satu teman dalam rombongan, untuk menjenguk keluarganya barang lima menit. Sekalian melewati jalur yang memotong jalan lebih dekat.

Dalam perjalanan kami mengatur ulang rencana perjalanan yang sebelumnya kurang matang. Pada mulanya kami hanya merencanakan untuk bermain-main atau berkeliling di sekitar Kota Batu, ternyata ada yang mengusulkan untuk melanjutkan perjalanan sampai ke daerah Pacet sampai ke Trawas lalu ke Tretes, dengan melewati daerah Cangar. Tanpa pikir panjang semuanya menyetujui. Perjalanan lalu di lanjutkan tanpa berhenti untuk mengadakan rapat terlebih dahulu.

Cuaca cukup terang selama perjalanan dari Kota Batu sampai ke Daerah Cangar, sehingga pemandangan tampak semakin indah. Pemandangan indah itu kami nikmati dari dalam mobil, sambil tanpa memberhentikan kendaraan. Karena jalan lebih banyak menukik naik keatas, jadi agak sulit bagi kami untuk sering-sering turun hanya demi melihat pemandangan. Mengingat waktu juga sangat terbatas, kami tak ingin hari gelap sebelum kami sampai di Tretes.

Perjalanan selalu cenderung naik, dengan tikungan yang selalu ada pada tiap beberapa puluh meter, entah ke kanan atau ke kiri. Sampai pada puncaknya, perjalanan mulai sering datar, lalu mulai untuk menurun di daerah perbatasan Batu dan Pacet. Untunglah kondisi jalan cukup baik, sehingga semakin melancarkan perjalanan.

Sesampai di puncak, ketika jalan mulai menurun, ternyata banyak terdapat warung-warung lesehan yang berjajar di pinggir jalan. Kesempatan ini kami gunakan untuk mengistirahatkan mobil, sekalian untuk menghangatkan badan dengan kopi hangat. Salah satu warung yang sepi pengunjung menjadi pilihan kami untuk mampir. Kebetulan dua Ibu pemilik warung sangat ramah melayani kami, sambil selalu tertawa Ibu-ibu itu menyajikan pesanan kami.

Setelah puas istirahat dan mengobrol sambil menghabiskan masing-masing segelas kecil kopi susu, kami melanjutkan perjalanan langsung ke Trawas. Karena jalan lebih banyak turun, jadi tidak terasa dalam waktu singkat Trawas sudah ada di depan. Akhirnya sekitar pukul 15.30 kami sampai di Daerah Trawas.
Di Trawas kami merencanakan untuk duduk istirahat dengan menyantap beberapa makanan kecil, di suatu tempat yang sudah di rencanakan yaitu di sebuah Perumahan Villa di Trawas. Tapi rencana batal di karenakan pengunjung terlalu padat, sehingga kami merasa tidak mungkin bisa menikmati keadaan dengan santai. Perjalanan di lanjutkan untuk tujuan Tretes.

Daerah Batu dan Tretes memang merupakan daerah tujuan wisata untuk para wisatawan yang berasal dari daerah Surabaya dan sekitarnya. Sedang hari ini adalah Liburan Nasional, maka tidak salah kalau di Tretes nampak padat sekali dengan para wisatawan. Jalan-jalan macet selain dengan mobil dan motor juga denga para pejalan kaki. Mereka ingin menikmati udara segar dan sejuk tanpa hujan sore ini.
Di Tretes sebenarnya ada salah satu Villa yang menjadi tujuan kami. Tetapi karena salah informasi, teman kami pemilik Villa, sore ini sudah meninggalkan Villanya. Sehingga kami tidak bisa mampir di Villa tersebut, apalagi penjaga Villa tersebut kebetulan tidak ada di tempat, ada keperluan ke tempat lain yang cukup jauh. Terpaksa sore ini di Tretes kami habiskan di Masjid untuk Sholat Asar, dan mengadakan pembicaraan sedikit, tentang tempat yang cocok untuk menghabiskan sisa waktu.

Keputusan akhirnya di tentukan untuk beristirahat terakhir di Masjid Muhammad Cheng Ho di Pandaan. Setelah selesai sholat mobil meluncur turun ke arah Pandaan, mengejar untuk Sholat Maghrib berjama’ah di Masjid Muhammad Cheng Ho. Walau jalan agak ramai, tapi kecepatan mobil lancar sampai tujuan.
Setelah memarkir mobil, kami bergegas masuk masjid untuk bergabung dalam sholat berjamaah. Sebelum rokaat pertama selesai kami sudah bisa ikut bergabung untuk melanjutkan Sholat Maghrib Berjamaah. Kemudian tak lupa kami melanjutkan untuk Sholat Isya’ sendiri-sendiri. Tak lama kemudian kami sudah bersama-sama untuk keluar Masjid.

Di samping Masjid Muhammad Cheng Ho, ada Rumah makan cukup besar yang bernama “Ngelencer”. Tempat ini kami pakai untuk istirahat terakhir dalam perjalanan. Hampir semua pesan dengan menu yang sama, yaitu makan Nasi Goreng dan minum Juice Jambu Merah. Sekitar dua jam kami habiskan waktu untuk ngobrol macam-macam di rumah makan ini.

Sebagai awal dari perpisahan, salah satu teman kami yang rumahnya di Surabaya, berpisah untuk berpindah menumpang Bis ke arah Bungurasih Surabaya. Setelah itu mobil menancap gas untuk pulang ke rumah masing-masing di kota kami tercinta.

Tidak terasa perjalanan yang tidak di duga-duga ini, akhirnya menempuh lebih dari seratus Kilometer, menyantap berbagai macam hidangan, mengobrol berbagai macam topik dan yang penting bisa menikmati berbagai macam pemandangan indah. Sesampai di rumah badan letih jadi tidak terasa dan terobati dengan kepuasan hati.

Embun Pagi Hari

Bintik-bintik embun di pinggir daun yang panjang. Lalu mengalir turun berkumpul di ujung daun yang menukik ke bawah. Siap untuk menetes, setelah menggelembung dan mengeritis terdorong oleh aliran embun dari bagian atas daun.

Hampir setiap daun basah oleh lembab dingin pagi ini. Hampir semua ujung daun yang menukik ke bawah, selalu meneteskan embun. Seakan daun-daun itu menangis bersama, sedih dengan kepergian malam.
Embun-embun itu bagai berlian, berkilau karena sinar terang fajar dari sebelah Timur. Embun, daun dan pagi. Tiga kata yang tidak bisa dipisahkan. Mereka selalu bertemu pada waktu tertentu.

Embun dan Pagi bertemu
Daun menghamparkan Permadani
Dalam waktu singkat mereka menyatu
Tanpa kata, tanpa suara
Lalu berpisah di iringi lagu kicauan Burung
Esok hari bertemu lagi
Ketika Fajar memanggil
Lagi….
Lagi….
Setiap hari.

Siklus keberadaan mereka menginspirasikan para Penyair menciptakan Puisinya. Rahasia dibalik keindahan embun pagi, menebarkan beribu pengertian.
Mereka mencoba mencari apa makna dari terciptanya Embun Pagi. Mengapa mereka bertemu di dalam keheningan pagi hari?

Mengapa mereka tidak bertemu pada sore hari saja?
Para penyair mencoba menghubung-hubungkan satu kisah dengan kisah yang lain. Mereka selalu gagal. Tapi mereka tidak putus asa untuk terus mencoba dengan cara yang lain.

Suasana pagi hari yang sejuk dan hening, menjadi semakin sakral dengan kehadiran embun. Tak salah bila orang mengartikan tetesan embun itu sebagai airmata dedaunan yang sedih, karena akan ditinggal malam.
Dan kesedihan daun tak berkelanjutan, karena burung merasa kasihan. Lalu menghibur dengan nyanyian merdu kicauan bersahut-sahutan, sampai Matahari dengan ceria muncul dan naik serta bersinar terang, mengeringkan airmata dedaunan.

Keesokan hari setelah malam benar-benar larut, kejadian itu terulang lagi. Sama seperti hari-hari yang telah lewat. Sama persis, tak bosan-bosan.

Lagu Kenangan Masa Lalu

Semalam kebetulan beberapa teman berkumpul bersama, disalah satu rumah temanku. Setelah berbicara kesana kemari, salah satu teman mendengarkan sebuah lagu barat berjudul “It’s me that you need” di nyanyikan Elton John, dan di lanjutkan dengan lagu kedua, berjudul “Angela” yang di nyanyikan oleh Jose Feliciano. Setelah itu beberapa lagu lama di putar lewat BB, hasil Download.

Kontan kenangan lama seakan terputar kembali dalam memoriku. Kejadian-kejadian yang berkenaan dengan lagu lama itu muncul, seakan tergambar seperti sebuah film yang di perankan oleh aku sendiri. Setiap lagu seakan-akan merupakan sebuah nama file dalam sutu kejadian tertentu. Bulu roma jadi berdiri selama aku mendengarkan setiap lagu.

Kenapa kenangan itu jadi indah saat ini, ketika di munculkan lagi lewat lagu lama itu? Mengapa lagu-lagu itu bisa memunculkan kenangan tertentu? Ini aneh sebenarnya. Padahal aku ingat betul ketika berlangsungnya kejadian itu, lagu lama itu tidak bersamaan terdengar. Pada waktu itu tidak ada hubungan sama sekali antara lagu dan kejadian. Aneh bukan?

Ketika It’s me that you need –nya Elton John dikumandangkan, langsung entah apa itu namanya pikiran, hayalan atau perasaan, melayang ke suatu tempat dan waktu tertentu yang jelas bagiku. Kulihat dengan jelas waktu itu aku masih muda sekali, ya waktu itu aku masih remaja. Berjalan-jalan, bersenda gurau bersama teman-teman bahagia sekali. Aku melihat saat itu pikiranku masih jernih, tak mempunyai sedikitpun beban hidup.

Betapa lebih indahnya jika saat ini aku bisa kembali ke waktu itu, dan mengenang masa sekarang. Tentu aku akan memutuskan untuk tidak meneruskan hidup ini. Atau aku akan kembali ke masa lalu, kemudian kembali lagi kemasa lalu lagi. Terus begitu dan tak akan pernah ingin melanjutkan sampai masa kini.

Begitu juga dengan lantunan lagu-lagu lama yang lainnya. Masing-masing mempunyai kenangan sendiri-sendiri, masing-masing mempunyai kebahagiaan yang berbeda-beda. Setiap lagu memainkan film-filmku yang berbeda. Semua film kenangan lama itu adalah film-film yang sangat bermutu. Jika di ikutkan festival, pasti akan mendapatkan juara satu. Itu kalau Cuma aku satu-satunya yang menjadi juri.

Setelah lagu-lagunya Elton John, lalu Jose Feliciano, Rod Stewart, The Beatles dan John Denver kemudian beberapa lagu tahun Delapan Puluhan. Tiap-tiap lagu kucoba untuk mengikuti lirik nya. Banyak yang lupa memang, tapi irama dan kenangan tak lupa sedikitpun. Tak terasa malam sudah sangat larut. Beberapa teman mulai pamit untuk pulang. Lagu-lagu lama terpaksa di hentikan. Suara yang terdengar adalah persiapan masing teman untuk berangkat pulang dengan motornya. Perasaan sekarang ini terasa lebih berat ketimbang sebelum aku mendengar lagu-lagu lama tadi.

Sebenarnya aku bisa memiliki koleksi lagu-lagu lama itu. Tapi memang aku tak mau mengoleksinya. Lagu-lagu itu memang menyenangkan, apalagi untuk mengenang masa lampau yang indah. Tapi entah mengapa aku keberatan jika selalu mengenang masa lalu.

Ketika kenangan itu muncul, maka saat itu perasaanku terasa menyenangkan. Ketika kenangan berhenti, dan kembali pada kenyataan saat ini, maka saat itulah perasaanku jadi benar-benar tidak enak. Jadi mau sampai kapan kita akan selalu mengenang masa lalu? Bukankah memikirkan saat sekarang yang sulit itu lebih berarti.

Aku pulang kerumah dalam perasaan yang tidak enak, tapi setelah aku memaksa diriku untuk berpikir positip, maka hilanglah semua perasaan tidak enak itu. Aku berharap hilangnya perasaan tidak enak itu jadi kenangan juga, lewat lagu-lagu lama tadi. Tapi tetap aku tak mau mengoleksinya.

Puncak Gunung Arjuno

Memasuki musim kemarau bisa dilihat dari tanda-tanda berkurangnya curah hujan, dan dekatnya bulan Juli. Mengingatkan aku pada masa mudaku dulu. Biasanya bulan Juni sampai bulan Desember, adalah bulan-bulan dimana aku bersama teman-temanku selalu mengadakan kegiatan mendaki gunung atau Camping. Acara ini
hampir setiap minggu aku adakan. Malam Minggu adalah malam-malam bersama dengan Alam dan Gunung.

Hampir semua gunung yang menjulang di daerah Jawa Timur sudah pernah aku injak-injak puncaknya. Baik yang tinggi maupun yang tidak terlalu tinggi. Kegiatan mendaki gunung sudah menjadi agenda rutin yang harus diadakan setiap minggu. Setelah menaklukkan gunung yang satu, maka semakin penasaran untuk segera menaklukkan gunung yang lain. Minggu depan adalah giliran gunung berikutnya untuk di taklukkan.

Kegiatan berkemah atau Camping dan mendaki gunung sudah aku jalani ketika aku masih duduk di bangku SD kelas 6. Kebiasaan ini merupakan kebiasaan turunan. Maksudnya dari saudara-saudara tua beserta famili-famili yang lebih tua dulunya juga sering mengadakan kegiatan pendakian gunung. Kegiatan yang mereka lakukan menarik minat saudara yang lebih muda, dan begitu seterusnya menurun sampai ke generasiku.

Ketika aku melihat saudara tuaku berkumpul dengan teman-temannya, sibuk mempersiapkan barang-barang bawaan. Perlengkapan Camping atau pendakian gunung beserta macam-macam makanan yang dibawa, sangat menarik minatku untuk ingin meniru perbuatan itu. Aku langsung berhayal, bagaimana bahagianya melakukan perjalanan bersama teman-temanku, mengarungi jalan-jalan setapak dengan pemandangan yang pasti sangat indah, tak lupa Carier atau tas khusus untuk mendaki gunung kuangkat di punggungku. Betapa gagahnya aku waktu itu.

Niat itu langsung aku bicarakan bersama famili yang sebaya dan teman-temanku. Sebagian besar dari mereka kontan menyambut dengan gembira, dan langsung merencanakan waktu dan tempat untuk acara pendakian atau camping perdana. Akhirnya diputuskan 2 minggu kedepan adalah acara untuk camping pertama di Gunung Gebuk. Sebuah gunung kecil yang terletak sekitar 7 Km sebelah barat dari tempat tinggalku.

Dari acara camping yang pertama itulah akhirnya muncul rencana-rencana selanjutnya. Kebetulan di sekitar kotaku terdapat beberapa gunung kecil yang mempunyai pemandangan yang cukup indah, serta sangat mudah di jangkau dan yang lebih penting lagi adalah aman untuk di daki. Kemudian setelah itu gunung-gunung kecil itu secara bergilir mendapat bagiannya untuk di daki sampai puncak, lalu mendirikan tenda di sana, dan bermalam di sana selama satu malam, Malam Minggu.

Setelah beberapa gunung berhasil di injak-injak puncaknya. Mulailah terbesit di dalam pikiranku dan teman-teman untuk mendirikan Group Pendaki Gunung. Karena group-group semacam itu sudah di dirikan oleh 2 generasi lebih tua dari keluarga dekatku, masing bersama teman dan kerabatnya. Jadi tak ada salahnya bila aku juga membentuk group tersendiri, dengan teman yang sebaya denganku. Karena tidak mungkin waktu itu aku ikut menjadi anggota dari 2 group tersebut, yang rata-rata usia anggotanya jauh di atasku.

Apalagi pada masa-masa itu lagi marak-maraknya terbentuk atau booming berdirinya group pendaki gunung hampir setiap kota, apalagi kota-kota besar. Group yang aku dirikan awalnya sedikit anggotanya, tapi lama kelamaan membeludak dan banyak yang ingin ikut bergabung menjadi anggota. Walaupun akhirnya yang bertahan tetap menjadi anggota, hanya anak-anak yang memang suka mendaki gunung atau suka camping.

Setelah terbentuknya group pendaki gunung, maka kegiatan pendakian dan acara camping menjadi semakin aktif. Frekwensi kegiatan semakin padat, hampir tidak pernah dalam seminggu tak ada acara pendakian gunung atau paling tidak hanya camping saja. Kegiatan semakin terorganisir secara lebih rapih, dan agenda pendakian lebih tersusun lebih padat.

Belum lagi acara kunjungan antar group pendaki gunung lain, seperti acara ulang tahun berdirinya suatu group pendaki gunung lain, yang selalu diadakan di daerah tanah lapang yang cukup luas di dataran tinggi. Atau memang tempat Bumi Perkemahan, biasanya di dekat lereng gunung. Sering kali karena hari Minggu sudah ada jadwal yang tidak bisa ditunda, maka acara tertentu akan di adakan di luar malam Minggu, saking tidak mau ketinggalan dengan event-event perkemahan dan pendakian.

Di dekat kotaku sebelah barat ada gunung yang cukup tinggi dan terkenal, bernama Gunung Arjuno. Ketinggiannya sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Gunung ini sangat aku cintai, lebih dari 10 kali aku mendaki dan sampai di puncaknya. Perjalanan yang tidak terlalu mudah dan jalan setapak yang cukup terjal, semakin menambah kecintaanku pada Gunung Arjuno ini. Dari atas puncak, kalau cuaca lagi terang, maka akan tampak sebagian besar daratan Jawa Timur bagian Tengah. Tepatnya antara Kota Malang dan Kota Surabaya. Begitu juga Pulau Madura juga bisa di lihat dengan jelas dari puncak gunung itu.

Udara yang sangat dingin, hutan yang lebat dan jalan yang menanjak curam adalah merupakan ciri khas dari Gunung Arjuno ini. Dan jalan satu-satunya hanya melewati kotaku saja. Kalau diurut rute perjalanannya, memang lebih banyak di tempuh dengan jalan kaki.

Dari kotaku sampai ke Pos Perkebunan Teh Wonosari, bisa di tempuh dengan menggunakan kendaraan. Dulu ada angkutan pedesaan berupa Pick Up, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Tapi jalan aspal sangat mudah untuk di lalui dengan kendaraan. Sesampai di Pos Penjagaan Perkebunan Teh Wonosari yang juga merupakan Pos Kantor Perhutani, kemudian menyerahkan surat-surat ijin. Karena setiap pendaki gunung yang hendak mendaki Gunung rjuno harus melengkapi surat ijin resmi dari kepolisian asal pendaki tersebut.

Setelah selesai urusan administrasi, dilanjutkan berjalan sampai batas akhir dari Perkebunan Teh Wonosari. Hati-hati keliru jalan atau tersesat, karena banyaknya jalan yang memisahkan antar bagian dari Kebun Teh. Setelah itu terbentanglah padang rumput luas, jalan setapak hanya ada satu menuju ke kaki gunung. Daerah ini cukup mudah untuk di lalui, karena hanya jalan yang datar saja tidak ada yang naik curam.

Sesampai di ujung Padang Rumput berarti mulai memasuki kaki gunung Arjuno. Nah dari sini jalan sudah mulai menanjak naik. Dari sini jalan harus pelan-pelan, tidak bisa berjalan dengan cepat, karena bisa kehabisan napas dan tenaga bisa terkuras habis dengan cepat. Jalan naik ini seperti ini terus berlanjut sampai puncak.

Biasanya perjalanan ke Gunung Arjuno dilakukan pada malam hari. Dengan harapan sampai di tengah, tepat sebelum memasuki hutan lebat yang bernama Alas Bingung. D tempat ini biasanya berhenti untuk istirahat dan bermalam, tanpa mendirikan tenda. Letak tanah dan waktu yang mendesak serta penghematan tenaga, tidak memungkinkan untuk mendirikan tenda. Kemungkinan pekerjaan yang kita lakukan hanya membuat kopi, atau minuman hangat lainnya. Lalu kemudian tidur sampai besok pagi.

Ke esokan harinya langsung meneruskan perjalanan, tanpa menunggu Matahari muncul, apalagi sudah tinggi. Karena Alas Bingung, dan udara dingin serta faktor ketinggian banyak menyita tenaga dan waktu. Biasanya puncak dapat di tempuh pada sekitar tengah hari. Walaupun jarak dari tempat tidur tadi sampai ke puncak, lebih dekat di banding dengan jarak dari Kebun Teh ke tempat tidur. Tapi jalan naik yang sangat curam dan terjal dan hanya bisa di tempuh dengan jalan sangat pelan-pelan. Itulah yang banyak memakan waktu lama, hingga sampai di puncak sampai tengah hari.

Di Puncak biasanya hanya beberapa jam untuk istirahat dan menikmati makanan dan pemandangan, yang sangat luar biasa indahnya. Setelah puas dengan segalanya, dan tidak ketinggalan berpose untuk foto-foto dengan berbagai macam gaya. Aku sempatkan berdiri dibatu besar yang letaknya paling tinggi. Kulihat gunung-gunung tinggi di sekeliling gunung ini, sambil menunjuk ke arah gunung-gunung itu lalu aku berkata:

“Hai gunung-gunung nantikan aku di puncakmu. Pasti.”

Akhirnya dengan berat hati terpaksa harus meninggalkan puncak, yang dengan susah payah di perjuangkan itu. Kembali pulang harus segera di lakukan agar tidak keduluan gelap malam. Perjalanan pulang yang terus menerus di lalui dengan jalan menurun, menjadikan perjalanan dapat di tempuh dengan waktu yang sangat singkat. Dalam beberapa jam saja aku sudah sampai di rumahku sendiri, bahkan sebelum Matahari terbenam.

Setelah berhasil mencapai puncak Gunung Arjuno, maka sudah tidak ada masalah lagi dengan puncak gunung-gunung yang lain di Jawa Timur, selain Gunung Semeru. Karena medan Gunung Semeru lebih sulit, dan lebih jauh. Tapi Gunung Arjuno adalah awal mula gunung tinggi yang berhasil aku taklukkan.

Kini semua puncak gunung-gunung itu telah menjadi kenangan. Tidak mungkin aku akan kembali lagi kesana, tapi kenangan pernah mencapai puncaknya adalah merupakan kebanggaan tersendiri. Pendakian gunung itu juga memberikan pendidikan bagiku, tentang bagaimana harusnya menghadapi segala macam tantangan dan cobaan. Aku merasakan sejak itu aku sudah jarang sekali mengeluh bila ada masalah yang menghadang.

Olah Raga Pagi Hari

Hari masih gelap ketika aku keluar rumah untuk olah raga. Sepatu sudah aku kenakan. Celana dan kaos olah ragapun tidak ketinggalan sudah lengkap aku pakai. Kegiatan ini aku lakukan, tentu setelah selesai urusan Sholat Subuh beserta bacaannya.

Aku berjalan dulu beberapa puluh meter, sebelum aku mulai untuk lari-lari kecil. Supaya menjaga otot agar tidak terlalu kaget dan mencegah kejang otot.

Setelah lari-lari kecil dimulai, pada awal-awal memang napas masih bisa diatur. Malah aku masih sempat berlari sambil membaca bacaan Sholawat. Tapi setelah mulai agak jauh, dan napas sudah mulai tampak terengah-engah. Segala macam bacaan sudah tidak bisa lagi dilakukan. Dan aku mulai terkonsentrasi pada pengaturan pernapasan.

Olah raga pagi ini aku lakukan di jalan kampung depan rumahku. Pertama-tama aku berlari menuju ke Timur. Jalan cenderung turun, sehingga agak meringankan aku untuk memulai gerakan lari-lari.

Setelah sampai di desa Paras, sekitar 1 Kilometer. Aku berbalik kembali lagi ke arah Barat. Dan tentu ini menjadi agak berat, karena jalannya selalu naik. Di sinilah keringat mulai keluar. Karena dengan jalan naik, aku harus mengeluarkan energi lebih besar.

Sesampai di depan rumahku, kulit wajah dan tangan sudah basah oleh keringat. Lalu aku meneruskan ke arah Barat sejauh kurang lebih 1 Kilometer. Maka setelah kembali lagi di depan rumahku, pakaianku sudah basah dengan keringat.

Pada hari-hari pertama aku melakukan olah raga lari-lari pagi. Jarak yang aku tempuh hanya sekitar 3 Kilometer. Yaitu pertama turun kearah Timur sejauh 1 Kilometer, lalu naik sampai di depan rumahku, dan meneruskan ke arah Barat sejauh 1 Kilometer. Lalu pulangnya jalan perlahan-lahan sampai rumah, untuk melemaskan kaki.

Ini aku lakukan selama seminggu. Lalu pada hari ke delapan, mulai aku tambah sejauh 2 Kilometer, yaitu setelah dari Barat, turun sampai kerumah, berarti sejauh 1 Kilometer, lalu melanjutkan lari turun ke arah Timur sejauh 1 Kilometer. Lalu kembali kerumah dengan jalan pelan-pelan untuk melemaskan kaki.

Baru setelah melewati waktu lebih dari 2 minggu, aku mulai lari-lari pagi sejauh kurang lebih 6 Kilometer. Dan jarak itu akan aku pertahankan terus. Tidak perlu menambah lagi, karena jarak itu sudah sangat bagus untuk ukuran usiaku. Yang penting adalah disiplin atau teratur setiap hari. Sudah menjadi kebiasaanku untuk sulit disiplin. Sering kali aku tiba-tiba berhenti tidak melakukan kegiatan olah raga pagi selama beberapa bulan. Lalu melanjutkan lagi, tak lama kemudiaan berhenti lagi, begitu seterusnya.

Jadi untuk kali ini, harus menjadi yang terakhir. Tidak boleh lagi berhenti untuk tidak berolah raga pagi hari. Semakin bertambah usiaku tentu semakin dibutuhkan kesehatan yang prima. Karena semakin tua maka semakin rentan tubuhku terhadap penyakit.

Padahal dengan olah raga pagi hari, aku merasakan benar kesehatan tubuhku. Aku merasa lebih bersemangat dan bergairah dalam hidup. Walaupun aku bukan orang yang terlalu banyak mengkonsumsi makanan, tapi aku tidak terlalu khawatir terhadap berbagai makanan dalam jumlah lebih. Tetapi bukan berarti terlalu berlebih-lebihan.

Padahal waktu yang diperlukan dalam melaksanakan olah raga pagi itu Cuma tidak lebih dari 30 menit. Waktu yang sangat singkat sekali, tapi bermanfaat dalam waktu sehari penuh.

Biasanya kalau aku tidak olah raga pagi, maka aku langsung tidur lagi setelah selesai Sholat Subuh. Banyak yang mengatakan tidur lagi setelah Sholat Subuh, itu kurang baik untuk kesehatan dan juga untuk yang berhubungan dengan Rejeki.

Maka dengan olah raga pagi, berarti aku tidak lagi tidur setelah Sholat Subuh. Dan waktu itu bisa aku gunakan untuk bekerja. Maka waktu bekerjaku jadi bertambah panjang.

Keuntungan lainnya, ialah aku jadi tidur malam hari lebih awal. Tidak seperti biasanya, aku selalu tidur sekitar jam 01.00 pagi hari. Maka bisa di bayangkan tentu sedikit sekali waktu tidurku. Siang harinya aku jadi sering mengantuk, dan pasti kurang semangat dalam bekerja.

Pemerintahan Yang Buta Terhadap Hati Nurani Rakyat

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, telah mengeluarkan surat edaran mengenai pelarangan kepada Kepala Daerah, untuk ikut dalam aksi Unjuk Rasa penolakan kenaikan harga BBM. Karena kepala daerah adalah kesatuan sistem dari Pemerintahan Pusat.

Kepala Daerah yang ikut dalam aksi unjuk rasa, berasal dari partai apapun, sementara akan dikenai sangsi berupa Teguran, jika masih tetap melakukan lagi , maka akan di kenai sangsi yang lebih berat yaitu di Tindak Lanjuti.

Kepala daerah yang ikut dalam unjuk rasa anti kenaikan harga BBM, berarti menolak kebijaksanaan Pemerintah Pusat, juga berarti melanggar Undang Undang APBN serta melanggar Sumpah Jabatan. Karena itu Kepala Daerah yang ikut aksi unjuk rasa bisa di berhentikan sesuai dengan UU tentang Pemerintah Daerah.

Berarti Pemerintah Daerah harus satu suara dengan Pemerintah Pusat, baik yang berpengaruh apapun kepada rakyat. Walaupun sebagian besar rakyat tidak menyetujui program Pemerinyah Pusat, maka Pemerintah Daerah harus tetap loyal dan terikat untuk  tetap mendukung Pemerintah Pusat.

Untunglah kenaikan harga BBM tidak jadi di laksanakan, entah karena banyaknya aksi unjuk rasa, atau ada unsur-unsur lain. Yang penting harga BBM tidak jadi naik. Semustinya saat-saat seperti ini Pemerintah Pusat melihat kebawa, bagaimana reaksi rakyat, khususnya rakyat jelata. Apakah mereka senang dengan harga BBM yang tidak jadi di naikkan,atau tidak senang?

Aku rasa untuk melihat dengan jelas ini semua, tidak di perlukan sama sekali alat yang canggih atau orang yang sangat pintar untuk melihatnya. Setiap ada percobaan untuk menaikkan harga BBM semua rakyat protes, kenapa tidak di upayakan untuk menurunkan saja harga BBM.

Keadilan seharusnya di lakukan oleh kedua belah pihak. Rakyat berhak untuk meminta Pemerintah Daerah setia dan loyal kepada rakyat, dan meminta Pemerintah Pusat loyal dan setia kepada Pemerintah Daerah. Kalau Pemerintah Pusat berhak meminta, berarti juga punya kewajiban untuk menerima. Karena tujuan dari semua hak dan kewajiban itu semata-mata demi keadilan dan kemakmuran rakyat semua.

Ironisnya dagelan yang di lakukan oleh semua jajaran pemerintahan ini, seperti tidak melihat sama sekali perasaan hati rakyat. Bagaimana rakyat yang sudah hidup serba kesulitan ini masih di tambah lagi dengan kesulitan-kesulitan lain, yang ujung-ujungnya untuk mengenakkan pemerintahan saja.

Diterima Di Perguruan Tinggi Negeri

Kisah ini menceritakan kejadian, saat-saat aku di terima di Perguruan Tinggi Negeri ITS Surabaya.

Pagi ini aku bergegas untuk berangkat ke suatu tempat, untuk urusan yang berhubungan dengan sekolah. Aku tidak memakai seragam sekolah, tidak juga pakai sepatu, dan tidak membawa buku sama sekali. Aku hanya ke rumah temanku yang rumahnya paling dekat dengan rumahku. Dan yang paling penting bapaknya berlangganan koran yang bernama “Jawa Pos”. Pagi ini terbitan koran untuk hari ini memuat berita yang sangat aku dan temanku tunggu-tunggu.

Biasanya pengantar koran sudah datang sebelum jam 7 pagi, tapi hari ini rupanya agak terlambat, karena pengantar belum datang juga padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7.30. Keterlambatan ini semakin membuatku penasaran dan gelisah, apalagi temanku yang rupanya dia sangat berharap dengan berita yang baik yang di inginkannya dan keluarganya, lebih-lebih lagi ibunya.

Hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia, daftar nama siswa yang di terima di umumkan lewat media massa koran. Aku dan temanku saat ini sedang tegang menanti beritanya. Aku sudah tidak bisa duduk tenang, walaupun aku sudah berusaha bersikap setenang mungkin, karena malu dilihat semua keluarga temanku. Tapi semua keluarganya maklum dengan ketegangan yang aku dan temanku rasakan. Karena mereka tidak mampu menenangkan ketegangan yang di rasakan anaknya.

Ketika aku duduk di sudut ruang teras, baru aku sadar setelah kulihat kedua tanganku sedikit bergetar, ternyata aku gemetar. Baru setelah itu mulai kuperhatikan dengan seksama setiap bagian tubuhku. Jantungku berdebar dengan ritme yang tidak teratur. Dingin pagi ini tidak menghalangi pergelangan tangan, kaki di bagian betis dan kening, serta antara hidung dan bibirku basah karena keringat. Pengumuman lewat koran sialan itu mengacaukan sistem tubuhku pagi ini. Ternyata hampir setiap detik aku selalu menoleh ke lorong, tempat lewat satu-satunya pengantar koran itu bila datang.

Aku yakin kekacauan yang aku rasakan dalam tubuhku ini hanya bisa sembuh dengan kedatangan pengantar koran itu. Tapi mana dia? Kapan dia mau datang? Apa dia tidak salah alamat pagi ini? Atau apakah dia sakit pagi ini? Atau mungkin dia mati pagi ini? Berbagai pertanyaan mengenai diri pengantar koran itu bermunculan di benakku. Dan tak satupun yang bisa aku jawab. Ketika aku mencoba menjawab satu pertanyaan, maka segera muncul pertanyaan lain yang lebih sulit untuk dijawab. Lorong itu masih saja sepi dari orang lewat, apalagi pengantar koran.

Entah jam berapa waktu itu, tapi yang jelas lebih dari jam 8.00 tepat. Kudengar suara bel “Kring kring.” Itu adalah suara bel sepeda engkol yang biasa di pakai pengantar koran untuk keliling mengantarkan korannya. Saat itu belum sempat aku menoleh ke lorong, pengantar koran itu sudah berada di teras rumah temanku, rupanya dia menjalankan laju sepedanya dengan cepat. Selain karena sudah terlambat, berita besar hari ini juga yang membuatnya tergesa-gesa dan harus cepat menyampaikan kepada yang membutuhkan.

Belum sempat pengantar koran itu mengambil jatah koran untuk keluarga temanku dari dalam kantong yang berisi tumpukan koran. Bapak dan Ibu serta saudara temanku sudah merebut kalau tidak mau di sebut merampas dari kantong itu. Sedang temanku hanya bisa berdiri dari kursi tanpa bisa maju ke  pengantar koran itu. Pasti karena semakin tegang. Begitu juga dengan aku, ternyata kedatangan pengantar koran itu justru semakin menambah ketegangan yang aku rasakan.

Aku sementara hanya bisa diam saja berdiri, melihat dan  menanti giliran yang mempunyai hak, pemilik koran untuk mencari-cari yang di butuhkan. Empat orang bergumul menjadi satu mengeroyok halaman koran, mencari tanda-tanda yang di inginkan untuk memastikan jawaban yang selama ini di nanti-nantikan. Tak lama kemudian salah satu dari ke empat orang itu menjerit,  berteriak keras “Pras diterimaaa…” Kontan ke tiga kepala lain yang tadinya terpisah, bergerak mendekat menjadi satu hampir berbenturan. Lalu sama- sama ikut berteriak lebih keras juga, dengan kata-kata yang berbeda, kebanyakan hanya mengeluarkan satu kata “Aaaaaa….”

Selanjutnya beberapa halaman koran di lempar dan melayang berserakan di lantai dan meja. Mereka berpelukan riang gembira tertawa di selingi dengan tangisan bahagia, selama beberapa menit. Aku sejenak bengong melihat kejadian itu, sebenarnya aku juga sedikit ikut merasakan bahagia. Tapi bukankah aku juga lagi ingin melihat hasil ujianku. Aku juga sedang mencari kepastian, apakah aku juga di terima atau tidak?

Setelah puas melihat adegan pelukan mesrah, aku mulai sadar dengan keperluanku. Sambil jongkok aku lihat satu persatu tulisan kecil, daftar nama siswa yang di terima. Karena aku sudah hafal dengan nomer urut dan tempat aku menjalankan ujian masuk perguruan tinggi. Akhirnya aku melihat dengan jelas namaku tertera di sana. Nomer dan nama serta tempat ujian sekali lagi aku amati, ternyata benar aku di terima. Aku tertegun dan tersentak kaget, tidak menyangka dengan kejadian pagi ini. Mangkanya aku melototi terus tulisan indah namaku di tengah daftar nama di koran itu.

Ternyata ke empat orang yang berdiri di depanku semuanya memperhatikan aku. Mereka menatap wajahku penasaran, ingin jawaban yang diharapkan. Mereka akan sangat takut dan akan bingung bagaimana menghadapi aku, jika tidak di terima. Sedangkan mereka sudah meluapkan perasaan senang dengan cara yang berlebihan dihadapan batang hidungku. Ketika aku sadar mereka memperhatikan aku dan penasaran, lalu aku segera berdiri dan sambil menunjukan namaku di koran, aku berkata: “Aku juga di terima.”

Ketiga anggota keluarga temanku ternyata juga ikut senang dan bahagia,  mendengar aku juga di terima di perguruan tinggi yang sama. Hampir mereka semua juga hendak memeluk aku, tapi keburu sadar dan mengurungkan niatnya. Tapi ucapan selamat dengan sangat senang dan bangga, jelas terucap tegas keluar dari mulut mereka semua. Aku jadi tidak kerasan di rumah temanku, dan ingin segera pulang untuk mengabarkan kepad keluargaku sendiri. Tanpa basa basi aku langsung pamit kepada mereka semua, dan mereka semua tampaknya benar-benar mengerti keinginanku untuk segera pulang.

Tanpa melihat aku keluar rumah, ke empat orang itu kembali berpelukan menjadi satu. Dengan tetap berjalan keluar, aku sempatkan melirik ke rumah temanku, adegan itu berlangsung cukup lama dan semakin erat pelukannya, sampai hilang dari pandanganku ketika aku melewati belokan. Setelah itu aku tidak bisa hanya berjalan biasa. Aku berlari dengan cepat, melewati lorong-lorong gang kecil di kampung belakang rumahku. Orang-orang kampung sempat heran dengan tingkah lakuku, ada yang bertanya kenapa aku ini? Bahkan ada yang bertanya di kejar siapa? Mereka menduga aku seperti di kejar polisi.

Sesampai di rumah aku langsung teriak keras, tak sanggup menahan luapan emosi yang ada di dalam dada. “Aku di terimaaaa….” Hampir semua anggota keluargaku yang ada di rumah saat itu kaget. Tapi mereka maklum dan senang dengan kejutan ini. Dengan tertawa mereka memberi aku selamat, dengan gaya dan cara mereka masing-masing. Tanpa ada pelukan dan tangisan serta jeritan, seperti adegan yang di lakukan keluarga temanku. Cara-cara yang di lakukan keluarga temanku, tidak akan di lakukan di tengah keluargaku. Budaya keluargaku berbeda dengan budaya keluarga temanku. Aku tahu itu dan maklum. Kebahagiaan asli dan jujur serta bangga, yang terpancar di wajah mereka setelah mendengar kabar dariku, sudah cukup membuatku bahagia, lebih dari pelukan erat yang mesrah.

Hari-hari ini aku isi dengan luapan bahagia bersama keluarga. Perbincangan yang kami adakan hanya berkisar tentang di terimanya aku di perguruan tinggi negeri itu. Begitu juga dengan beberapa temanku yang juga di terima di beberapa perguruan tinggi negeri lainnya. Persiapan-persiapan sekitar masalah kuliah dan kost, juga jadi perbincangan kami. Kesulitan-kesulitan yang telah, atau sedang dan akan kami hadapi, hilang tertelan dengan kebahagiaan hasil pengumuman di koran itu. Alhamdulillah.